Langsung ke konten utama

Putihnya Seakan Memerah


            Seakan menyelimuti kenangan akan hari-hari itu tentang kekasihnya, alir sisa rinai hujan subuh tadi turut membuat tarikan nafasnya semakin dalam di ikuti tetes air mata yang mengalir melewati pipinya yang kerap memerah jika tersentuh. Memerahnya pipi itu terlihat semakin indah karena bersanding dengan warna kulit sawo matangnya.
            Kelembutan selalu terpancar dari setiap tutur kata wanita ini, wanita yang mungkin lupa banyak hal sewaktu kecil tetapi tak pernah bisa melupakan pelukkan hangat yang selalu menenangkan dirinya. Pelukan yang memberi nasehat dan ketenangan, bahkan lebih hangat dari setiap olahan kata yang kerap wanita ini dengar dari siapapun.
. . . .
            Genangan air di dalam ember penampungan itu selalu berhasil merefleksikan anggunya wajah lembut wanita ini, yang bertugas untuk membuang genangan air sisa rembesan jika turun hujan karena atap rumah mereka yang mulai merekah lapuk di sudut dapur.
“Tiana” gadis yang selalu bisa berhati-hati tetapi tidak untuk ketepatan waktu, selalu saja berlari seperti tengah menikmati perlombaan “siapa cepat dia dapat” di setiap pagi telatnya. Pagi ini tak seperti pagi biasanya!! pagi ini dia berhasil menikmati roti bakar dengan segelas susu putih kesukaannya, karena berhasil berkerjasama dengan jam weker hadiah ulang tahun yang ke-8 dari lelaki yang kerap muncul dibalik tirai mimpinya jika terbuka.
Ada beberapa hal yang jarang dilakukan oleh sebagian orang di luaran, tetapi menjadi hal yang biasa ataupun memang harus dilakukakn oleh Tiana. Seperti selalu tidak pernah lupa menge-set waktu-waktu tertentu di jam weker dan handphonenya sebelum tidur. Hal ini menjadi sebuah maklumat bagi orang-orang disekitarnya, karena hidupnya yang seorang diri menikmati rumah mewah peninggalan keluarga yang sudah mulai melapuk. Kebiasaan ini timbul karena ia merindukan sosok wanita paruh baya yang tak pernah terdengar mengucapkan kalimat apapun hingga ia telah dewasa seperti sekarang, atau yang biasa dipanggilnya dengan sebutan ibu.
Alarm berikutnya berbunyi, mengingatkannya untuk bergegas bersiap-siap…..       


Komentar

Posting Komentar